Di dunia yang penuh dengan tuntutan untuk selalu tampil unggul, remaja sering kali berhadapan dengan toxic positivity. Ini adalah sikap di mana seseorang dipaksa untuk selalu berpikir positif, mengabaikan perasaan sedih, marah, atau kecewa, dan menuntut mereka untuk “bersyukur saja” di setiap situasi. Padahal, emosi negatif adalah bagian dari respons manusiawi terhadap stres. Memaksa remaja untuk menekan perasaan jujur mereka hanya akan membuat mereka merasa terisolasi, merasa tidak divalidasi, dan perlahan kehilangan jati diri karena merasa tidak diizinkan untuk menjadi manusia yang utuh.
Dampak dari toxic positivity di sekolah atau lingkungan pergaulan sangat berbahaya. Ketika seorang siswa merasa cemas karena ujian atau takut akan masa depan, lalu mendengar kata-kata “jangan sedih, banyak yang lebih susah,” hal itu justru memvalidasi perasaan bahwa emosi mereka tidak penting. Hal ini menyebabkan remaja cenderung memendam perasaan mereka hingga akhirnya meledak dalam bentuk stres yang lebih parah atau tindakan menyakiti diri sendiri. Jati diri remaja yang sedang dalam fase pembentukan justru akan terdistorsi karena mereka merasa tidak boleh menunjukkan sisi “lemah” dari diri mereka di dunia yang kompetitif.
Melawan toxic positivity dimulai dengan pemberian izin bagi diri sendiri untuk merasakan apa yang dirasakan. Merasa sedih setelah gagal dalam lomba atau merasa cemas karena beban tugas adalah hal yang valid. Langkah konkretnya adalah dengan membangun kesadaran diri (self-awareness). Remaja harus belajar untuk mengidentifikasi perasaan mereka dan mengungkapkan dengan jujur kepada teman atau orang tua yang tepercaya.
Dalam pergaulan, remaja juga perlu belajar menjadi pendengar yang empatik, bukan pemberi nasihat instan yang penuh dengan toxic positivity. Alih-alih berkata “kamu harus semangat,” cobalah dengan “aku mengerti kenapa kamu merasa begitu, apa yang bisa aku bantu?” Perubahan cara berkomunikasi ini akan menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap orang untuk menjadi diri sendiri. Keaslian dalam pertemanan akan jauh lebih berharga daripada tuntutan untuk selalu terlihat optimis di permukaan namun rapuh di bagian dalam.
Menjaga jati diri di dunia kompetitif bukan berarti kita harus selalu menang atau selalu senang. Jati diri sejati adalah kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah tekanan untuk terlihat “positif” setiap saat. Dengan menolak toxic positivity dan merangkul keberagaman emosi, remaja akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih jujur, tangguh, dan empatik. Mari kita ciptakan ruang di mana kejujuran perasaan lebih dihargai daripada kepalsuan optimisme. Inilah cara kita menjaga kewarasan remaja dan memastikan mereka tidak kehilangan jati diri di tengah hiruk-pikuk tuntutan dunia yang serba kompetitif.