Menyusuri lorong-lorong berpaving di kawasan Batavia lama memberikan pengalaman yang mendalam bagi para pelajar untuk memahami akar sejarah kolonialisme di Indonesia secara nyata. Program Belajar Sejarah Bangsa kali ini membawa siswa ke Kota Tua Jakarta, sebuah pusat pemerintahan masa lampau yang menyimpan banyak gedung bergaya neoklasik yang megah. Fokus kunjungan adalah Museum Fatahillah, yang dulunya berfungsi sebagai Balai Kota (Stadhuis) Batavia. Di sini, siswa mempelajari bagaimana sistem birokrasi dan hukum diterapkan pada masa VOC hingga pemerintah Hindia Belanda.
Dalam kegiatan Belajar Sejarah Bangsa, siswa tidak hanya melihat benda-benda museum, tetapi juga mengamati arsitektur gedung yang memiliki dinding batu tebal dan jendela kayu jati berukuran besar. Desain arsitektur ini merupakan teknologi bangunan masa lalu untuk menjaga sirkulasi udara tetap sejuk secara alami di tengah cuaca panas Jakarta. Siswa juga diajak untuk melihat langsung kondisi penjara bawah tanah yang sempit dan pengap, yang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan lokal melawan penindasan kolonial, guna menumbuhkan rasa empati dan semangat patriotisme di dalam jiwa mereka.
Selain Museum Fatahillah, agenda Belajar Sejarah Bangsa juga mencakup kunjungan ke Museum Wayang dan Museum Keramik yang terletak di sekitar lapangan utama. Di sana, siswa belajar tentang asimilasi budaya antara masyarakat lokal, pedagang Tiongkok, dan bangsa Eropa yang membentuk identitas Jakarta yang multikultural saat ini. Penggunaan teknologi digital dalam beberapa tampilan museum terbaru memudahkan siswa untuk memvisualisasikan peta pertumbuhan kota dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung menjadi pusat pemerintahan yang strategis di kawasan Asia Tenggara pada zamannya.
Penutupan program Belajar Sejarah Bangsa diakhiri dengan diskusi terbuka mengenai pentingnya menjaga kedaulatan negara dan menghargai kemerdekaan. Kota Tua menjadi pengingat nyata bagi para siswa bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Dengan memahami masa lalu melalui peninggalan fisik yang ada, siswa diharapkan dapat mengambil pelajaran hidup untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih demokratis dan maju. Melestarikan Kota Tua bukan sekadar menjaga tumpukan batu, melainkan menjaga memori kolektif bangsa agar tetap hidup bagi generasi mendatang.